GORONTALO — Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan Raya Nasional AS (NHTSA) resmi membuka penyelidikan terhadap mesin 1.0 liter EcoBoost milik Ford. Investigasi ini menyusul banyaknya laporan mesin rusak parah atau grenading yang terjadi secara mendadak pada kendaraan bermesin tiga silinder tersebut.
Bukan Sekadar Mesin Mogok, Tapi Bisa Hilang Tenaga Saat Melaju
Masalahnya bukan cuma mesin mati di tempat. NHTSA menemukan bahwa kerusakan terjadi saat kendaraan sedang melaju, yang bisa berujung pada hilangnya tenaga penggerak secara tiba-tiba. Situasi ini jelas membahayakan jika terjadi di jalan tol atau saat hendak menyalip.
Akar masalahnya ada pada timing belt yang terendam oli. Sabuk ini bisa terdegradasi seiring waktu dan menghasilkan serpihan karet. Serpihan-serpihan itulah yang kemudian menyumbat saringan oli atau oil pump pick-up screen. Akibatnya, pasokan oli ke seluruh komponen mesin terhenti dan mesin pun mati atau rusak total tanpa ada gejala berarti sebelumnya.
Model Mobil Apa Saja yang Terdampak?
Penyelidikan ini menyasar kendaraan bermesin 1.0 liter EcoBoost yang diproduksi antara tahun 2018 hingga 2022. Beberapa model yang masuk daftar pemeriksaan antara lain Ford Escape, Bronco Sport, dan pikap Maverick. Total unit yang dipanggil untuk diperiksa mencapai lebih dari 700 ribu unit di pasar Amerika Utara.
Mesin 1.0 liter EcoBoost ini memang dikenal sebagai mesin kecil yang bertenaga, banyak dipakai pada model global Ford lainnya seperti Fiesta, Focus, dan Puma. Namun, kasus di Amerika ini menunjukkan bahwa masalah keawetan timing belt bisa menjadi titik lemah yang serius, terutama bagi pemilik yang jarang melakukan penggantian komponen tersebut sesuai interval.
Pemilik Wajib Cek Riwayat Servis Timing Belt
Bagi pemilik kendaraan Ford bermesin 1.0 liter, langkah antisipasi paling masuk akal adalah memeriksa riwayat penggantian timing belt. Jika kendaraan sudah menempuh jarak di atas 150.000 km atau berusia lebih dari enam tahun, ada baiknya segera dilakukan inspeksi menyeluruh ke bengkel resmi.
NHTSA sendiri belum memerintahkan penarikan massal atau recall secara resmi. Namun, temuan awal menunjukkan bahwa risiko yang ditimbulkan sudah masuk kategori tidak masuk akal terhadap keselamatan kendaraan. Ini bisa menjadi dasar bagi NHTSA untuk memaksa Ford melakukan perbaikan gratis di kemudian hari.
Untuk pasar Indonesia, mesin 1.0 liter EcoBoost tidak banyak beredar karena model Ford yang dijual resmi di sini didominasi mesin 1.5 liter dan 2.0 liter. Meski begitu, pemilik Ford Fiesta atau EcoSport yang pernah melakukan mesin konversi atau membeli unit impor perlu waspada dengan isu ini.
Penyelidikan masih berlangsung dan hasil akhirnya akan menentukan apakah Ford harus melakukan recall besar-besaran atau cukup menerbitkan technical service bulletin. Yang jelas, kasus ini menjadi pengingat bahwa komponen kecil seperti timing belt bisa berdampak fatal jika kualitasnya tidak dijaga dengan baik.