GORONTALO — Dony Oskaria, yang juga menjabat Chief Operating Officer (COO) Danantara, mengungkapkan saat ini Telkom masih mengelola 67 entitas yang terdiri dari 58 anak perusahaan dan 9 investasi minoritas. Dari jumlah tersebut, sebanyak 34 entitas akan dipangkas melalui program streamlining. Hasilnya, Telkom diharapkan menjadi perusahaan digital nasional yang lebih adaptif dan berdaya saing global.
"Transformasi bukan soal mengubah struktur semata. Yang paling penting, perusahaan bisa bergerak lebih cepat, lebih efisien, dan menciptakan nilai yang lebih besar," ujar Dony dalam keterangan resminya, Sabtu (8/8/2026).
Fokus pada Efisiensi dan Kepemimpinan
Proses transformasi ini tidak hanya berhenti pada pemangkasan entitas. Dony menegaskan, jajaran direksi Telkom juga tengah fokus pada penguatan leadership pipeline. Tujuannya memastikan perusahaan memiliki talenta kepemimpinan yang siap menghadapi dinamika industri digital yang berubah sangat cepat.
Dengan struktur organisasi yang lebih sederhana, proses pengambilan keputusan diharapkan semakin cepat. Efisiensi operasional juga menjadi target utama, sekaligus memperkuat fokus bisnis perusahaan pada layanan digital bernilai tinggi.
Gelombang Pemangkasan di Seluruh BUMN
Langkah Telkom ini merupakan bagian dari agenda besar Badan Pengelola Investasi Danantara dan BP BUMN yang memangkas sekitar 652 entitas pelat merah. Hingga 31 Juli 2026, tercatat 274 perusahaan BUMN sudah berhasil ditata melalui skema merger, likuidasi, hingga divestasi.
"Kurang lebih nanti total yang akan kita selesaikan itu 652 perusahaan yang akan hilang. Dan sehingga nanti kita hanya akan punya 250 perusahaan," imbuh Dony.
Proses pemangkasan ini pun dikawal ketat oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kementerian Hukum. "Transformasi BUMN membutuhkan kolaborasi lintas lembaga agar setiap langkah yang dijalankan memiliki landasan hukum yang kuat dan tata kelola yang baik," kata Dony.
Dampak Nyata di Lapangan
Dony mencontohkan, upaya streamlining yang dilakukan sudah membuahkan hasil positif di sektor lain. Pupuk Indonesia, misalnya, berhasil membukukan laba hingga Rp 6,1 triliun dalam enam bulan pertama tahun ini. Perusahaan pelat merah itu bahkan sudah mulai mengekspor pupuk ke Australia setelah memperbaiki sejumlah pabriknya.
"Sekarang kita sudah membangun 8, memperbaiki 8 pabrik pupuk kita. Dan kita sudah mulai ekspor pupuk kita, bulan lalu ekspor perdana kita ke Australia. Jadi kita sudah menjadi eksportir pupuk sekarang," tuturnya.
Keberhasilan tersebut menjadi tolok ukur bahwa penyederhanaan struktur bukan berarti mengecilkan skala bisnis, melainkan justru membuat BUMN lebih gesit dan fokus pada lini usaha yang menguntungkan. Bagi Telkom, langkah ini menjadi kunci untuk mempercepat inovasi dan memperkuat kontribusinya dalam mendukung transformasi digital Indonesia.