Pencarian

Akuisisi VideoVerse Rp4,1 Triliun Gagal Bayar, Founder dan Perusahaan Terjerat Gugatan Fraud

Kamis, 13 Agustus 2026 • 01:34:31 WIB
Akuisisi VideoVerse Rp4,1 Triliun Gagal Bayar, Founder dan Perusahaan Terjerat Gugatan Fraud
Minute Media resmi menghentikan kontrak akuisisi dengan VideoVerse pada Mei lalu.

GORONTALO — Akuisisi yang semula dirayakan sebagai kemenangan startup India ini resmi bubar di tengah jalan. Minute Media, penerbit olahraga internasional yang berbasis di New York dan Tel Aviv, mengumumkan penghentian kontrak dengan VideoVerse pada Mei lalu. Perusahaan menyebut adanya perbedaan signifikan dalam representasi yang diberikan VideoVerse selama proses akuisisi.

Keputusan Minute Media ini menegaskan bahwa kedua perusahaan tetap beroperasi sebagai entitas hukum terpisah, bahkan setelah kesepakatan akuisisi dinyatakan selesai. Padahal, rencana awal Minute Media adalah membawa teknologi kliping VideoVerse ke pasar olahraga internasional yang lebih luas, terutama Amerika Serikat.

Kronologi Ambruknya Kesepakatan US$250 Juta

Masalah mulai terkuak setelah Lingotto, sebuah firma investasi, memberikan pinjaman terstruktur senilai US$55 juta kepada Shrivastav pada Oktober. Pinjaman ini diajukan untuk melunasi kreditur sebelumnya, dengan jaminan bahwa kesepakatan dengan Minute Media bernilai lebih dari empat kali lipat jumlah pinjaman.

Dari US$55 juta tersebut, US$53 juta dikirim ke rekening yang dikendalikan Clippings—nama lain dari VideoVerse—pada 1 Oktober. Namun, pembayaran pertama yang jatuh tempo pada 31 Maret tidak pernah tiba. Saat Lingotto menagih seluruh pinjaman berikut bunga, mereka menemukan daftar panjang pihak yang juga menunggu pembayaran dari VideoVerse.

Lingotto kemudian mengungkap bahwa dokumen kunci yang diberikan Shrivastav diduga palsu. Klaim mereka menyebutkan, dokumen yang seharusnya ditandatangani CEO Minute Media ternyata tidak pernah ditandatangani. Tangkapan layar saldo bank internal yang ditunjukkan Shrivastav juga diduga hasil rekayasa.

Gugatan Berlapis: Dari Investor hingga Kreditur

Bluestone Capital, investor yang mendanai VideoVerse pada putaran 2023, kini menggugat perusahaan atas tuduhan penipuan. Mereka menuding startup tersebut melanggar ketentuan investasi dan menolak membayar hasil akuisisi. Gugatan terpisah datang dari kreditur yang menuntut pengembalian US$64 juta dari pinjaman yang diambil Shrivastav tak lama setelah kesepakatan akuisisi ditutup.

Dalam pengajuan yang sama, Shrivastav juga dituduh melakukan penipuan selama proses akuisisi. Ia disebut menggunakan dokumen merger palsu yang tidak mencerminkan kesepakatan bisnis dengan Minute Media. Dokumen palsu ini diduga dipakai untuk membujuk pemegang saham Clippings menyetujui merger.

Bahkan, COO VideoVerse melayangkan tuduhan lebih jauh. Ia mengklaim Shrivastav memalsukan tanda tangannya pada perjanjian pinjaman dan pembelian kembali saham. Aksi ini diduga dilakukan untuk menarik puluhan juta dolar dari perusahaan setelah kesepakatan dengan Minute Media diumumkan.

Apa Itu VideoVerse dan Bisnis Kliping Video?

VideoVerse bukan nama yang familier di kalangan konsumen, tetapi perusahaan ini memainkan peran penting di industri kliping video senilai miliaran dolar. Produk unggulannya, Magnifi, adalah alat bertenaga AI yang mampu mengidentifikasi pemain kunci dan momen penting dalam siaran panjang secara otomatis.

Dengan Magnifi, klien dapat menghasilkan paket klip—misalnya seluruh tembakan tiga angka dalam pertandingan basket—tanpa perlu menyunting manual. Platform ini didukung tim pendukung manusia yang ekstensif dan menarik klien bergengsi seperti Indian Premier League, FIFA+, dan Nippon TV.

Nasib Investor dan Dana yang Hilang

Hingga kini, puluhan juta dolar dilaporkan hilang dan belum ada kejelasan mengenai ke mana dana tersebut mengalir. Saling klaim antara Minute Media, Lingotto, dan Bluestone Capital di pengadilan Delaware semakin memperumit upaya pelacakan aset.

Shrivastav sendiri telah lengser dari posisi CEO pada akhir April. Rangkaian peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik kesepakatan startup bernilai besar, uji tuntas (due diligence) memiliki batas dan kepercayaan antar pihak tetap menjadi fondasi yang rapuh.

Follow www.kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks