GORONTALO — Rugi bersih konsorsium BUMN yang menaungi proyek kereta cepat Whoosh mencapai Rp5,13 triliun hanya dalam enam bulan pertama 2026. Angka ini bahkan melampaui total kerugian sepanjang tahun 2025 yang tercatat Rp4,99 triliun. Tekanan finansial pada proyek strategis nasional itu kian dalam.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Sebagai pemegang saham mayoritas PSBI dengan porsi 58,53 persen, KAI menanggung rugi bersih dari proyek Whoosh senilai Rp3 triliun pada semester I 2026.
Akibatnya, pendapatan KAI memang masih tumbuh 6,6 persen menjadi Rp17,95 triliun. Namun laba bersih perseroan tergerus tajam hingga 73,9 persen, tersisa hanya Rp305,3 miliar. Penurunan drastis ini menjadi sinyal bahaya bagi kesehatan finansial operator kereta api pelat merah tersebut.
Beban serupa dirasakan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. Chief Operating Officer BPI Danantara sekaligus Kepala Badan Pengaturan BUMN, Dony Oskaria, mengakui kondisi ini di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (31/7/2026).
"WIKA terbebani, mereka punya saham di KCIC. Ada tagihan dia yang juga belum di-seattle. Ya tentu orang-orang juga tahu. Ini menjadi beban buat mereka," kata Dony.
Dony menegaskan bahwa tekanan keuangan yang dialami para pemegang saham PSBI—konsorsium yang menguasai 60 persen saham PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC)—merupakan masalah bawaan yang harus diurai secara bertahap. Ia meminta publik bersabar karena penanganannya membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.
"Kalau ditanya sama saya dulu kenapa begitu, ya tentu teman-teman silahkan cari tahu. Tetapi saya hanya membetulkan bahwa memang terbebani," ujar Dony.
Pemerintah melalui Danantara tengah merumuskan solusi konkret untuk memulihkan struktur keuangan konsorsium. Salah satu opsi yang mengemuka adalah pengambilalihan atau take over aset prasarana KCIC oleh pemerintah, yang kemudian berpotensi dihibahkan kembali.
"Insya Allah kemungkinan akan dilakukan dengan pola demikian, akan dihibahkan. Nah karena itu, maksud saya itu satu-satu. Satu-satu kita bereskan. Mohon kesabarannya," beber Dony.
Dony mengungkapkan bahwa selain kereta cepat, Danantara juga sedang merapikan persoalan keuangan BUMN lain seperti PT Pos Indonesia (Persero) dan PT Adhi Commuter Properti Tbk. Semua ini, menurutnya, adalah pekerjaan rumah peninggalan masa lalu yang harus dibereskan secara berurutan.