GORONTALO — Sebanyak 5.388 jiwa atau 2.361 kepala keluarga (KK) di tiga kabupaten di Provinsi Gorontalo terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih. Data sementara BPBD Provinsi Gorontalo mencatat wilayah terdampak meluas di Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Gorontalo, dan Kabupaten Gorontalo Utara.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Moh. Tahir Laendeng, mengatakan musim kemarau tahun ini tidak hanya memicu krisis air bersih. Kondisi cuaca yang semakin kering turut meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik.
Kabupaten Bone Bolango menjadi daerah dengan sebaran kekeringan paling luas. BPBD mencatat lima kecamatan di kabupaten tersebut telah melaporkan dampak kemarau, disusul tiga kecamatan di Kabupaten Gorontalo dan satu kecamatan di Kabupaten Gorontalo Utara.
Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah Kecamatan Bone Pantai. "Di Kecamatan Bone Pantai, kekeringan melanda Desa Tongo, Desa Pelita Hijau, Desa Batu Hijau, dan Desa Uabanga dengan total 221 KK atau 954 jiwa terdampak," kata Tahir, Jumat (31/7).
Menghadapi situasi ini, BPBD Provinsi Gorontalo terus memutakhirkan data di lapangan. Pendataan dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan air bersih tepat sasaran, terutama bagi warga di desa-desa yang sumber airnya mulai mengering.
Selain pemenuhan kebutuhan harian, Tahir mengingatkan warga agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Lahan kering dan vegetasi yang mudah terbakar menjadi risiko besar di tengah cuaca ekstrem ini.
Pihaknya berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota untuk memantau perkembangan situasi. Langkah mitigasi dan respons cepat akan terus dilakukan selama musim kemarau masih berlangsung.