GORONTALO — Test ride yang dilakukan Gibran Rakabuming Raka pada Kamis (30/07/2026) bukan sekadar seremonial belaka. Dalam unggahan Instagram pribadinya, Wapres menyoroti daya tahan Tangkas X7 yang dipakai driver Gojek untuk ritme kerja harian. "Kalian tahu sendiri kalau Gojek itu setiap hari heavy duty bisa sampai 100 kilometer," ujarnya dalam video yang dibagikan pihak Tangkas.
Pernyataan itu menegaskan posisi Tangkas X7 di segmen motor listrik bongsor—kategori yang selama ini didominasi produk impor. Pertanyaannya, apakah spek di atas kertas sebanding dengan kebutuhan harian pengendara Indonesia?
Di atas kertas, Tangkas X7 menawarkan paket yang jarang ditemui di kelasnya. Motor ini menggendong baterai 72V/32AH dengan dinamo 3000W hingga 4000W. Klaim pabrikan untuk jarak tempuh mencapai 120 km dalam sekali cas, dengan kecepatan maksimum 100 km/jam.
Untuk konteks harian, angka itu realistis untuk penggunaan campuran dalam-luar kota. Namun perlu dicatat, klaim 120 km biasanya didapat pada kecepatan konstan rendah. Pemakaian gas pol di tol atau tanjakan ekstrem bakal memangkas angka tersebut secara signifikan—ini catatan umum untuk semua motor listrik, bukan hanya Tangkas.
Tangkas tidak hanya mengandalkan klaim pabrikan. Pada 14-20 Juni 2026, varian X7 New dilibatkan dalam Riding Nusantara 2026, menempuh rute Cilegon (Banten) hingga Singaraja (Bali) via Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Total jarak 1.200 kilometer ditempuh dalam enam hari.
Rute tersebut mencakup kombinasi jalan tol Trans Jawa dan jalur pantura yang padat. Ini bukan sekadar touring santai—motor dipaksa bekerja dalam durasi panjang dengan kondisi jalan beragam. Hasilnya memang belum dipublikasikan secara detail, tapi partisipasi ini menunjukkan keberanian Tangkas menguji produknya di publik.
Meski begitu, uji jarak jauh bukan indikator tunggal durabilitas. Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah kualitas komponen kecil—karet, seal, soket kabel—yang biasanya baru terlihat masalahnya setelah pemakaian 3-6 bulan.
Kunjungan Gibran ke pabrik Tangkas di Kabupaten Tangerang, Banten, membawa narasi lebih besar dari sekadar peluncuran produk. Dalam keterangan resminya, Wapres menekankan sinergi pendidikan dan industri untuk transisi energi. "Saya melihat bahwa kolaborasi riset dan penyelarasan kurikulum menjadi sangat penting untuk menciptakan SDM yang adaptif," tulisnya.
Konteks ini penting. Tangkas adalah salah satu dari sedikit merek yang benar-benar merakit di dalam negeri, bukan sekadar CKD (Completely Knocked Down) yang diimpor utuh. Keberadaan pabrik di Tangerang berarti ada lapangan kerja lokal dan transfer teknologi—nilai tambah yang tidak dimiliki kompetitor impor.
Dari bahan yang tersedia, ada beberapa catatan yang belum terjawab. Pertama, belum ada informasi resmi soal harga Tangkas X7—faktor penentu utama keputusan pembelian. Kedua, jaringan servis dan ketersediaan baterai pengganti di luar Jawa masih menjadi pertanyaan besar untuk motor listrik lokal.
Ketiga, meski sudah dipakai Gojek, itu tidak otomatis menjamin kenyamanan harian. Armada korporat biasanya punya jadwal perawatan ketat dan akses bengkel khusus—sesuatu yang mungkin tidak dimiliki konsumen individu. Calon pembeli sebaiknya menanyakan garansi baterai (biasanya komponen termahal) dan biaya penggantian sebelum memutuskan.
Untuk konteks kompetisi, Tangkas X7 masuk segmen yang diperebutkan produk seperti Volta, United, dan beberapa merek China. Keunggulan Tangkas ada di status rakitan lokal dan dukungan pemerintah, sementara kompetitor impor biasanya unggul di harga atau fitur teknologi. Pilihan akhir tetap bergantung pada prioritas: mau mendukung produk dalam negeri dengan segala konsekuensinya, atau mencari nilai terbaik dari segi fitur.