MATARAM — Angka penjualan tiket MotoGP Mandalika yang baru mencapai 42 persen dinilai sebagai progres positif oleh Pemerintah Provinsi NTB. Meski waktu menuju balapan tinggal sekitar satu bulan, pihaknya yakin tren penjualan akan terus merangkak naik, meniru capaian tahun-tahun sebelumnya yang selalu melampaui target.
Ahmad Nur Aulia menyebut kehadiran dua pembalap Indonesia di kelas bawah menjadi daya tarik tambahan tahun ini. Veda Ega Pratama akan turun di kelas Moto3, sementara Mario Aji berlaga di kelas Moto2.
"Tapi seperti apa teknis-teknis konsep kegiatan yang dilakukan pasti nantinya akan menyesuaikan, salah satunya soal parade pembalap," ujar Aulia di Mataram, Kamis.
Untuk mengantisipasi lonjakan kedatangan ratusan ribu orang, Pemprov NTB tengah mematangkan skema konektivitas transportasi. Penambahan frekuensi penerbangan langsung ke Lombok dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Yogyakarta, menjadi prioritas utama.
"Konektivitas ini pasti akan berdampak, karena akan ada ratusan ribu orang yang akan datang ke Lombok, baik melalui udara, darat, dan laut," kata Aulia.
Data yang dihimpun menunjukkan tren peningkatan jumlah penonton yang konsisten di Sirkuit Mandalika. Pada edisi perdana 2022, tercatat 102.801 orang hadir, dan angka serupa kembali terjadi pada 2023 dengan 102.929 penonton.
Lonjakan signifikan terjadi pada 2024 dengan 121.252 penonton, sebelum akhirnya mencapai rekor tertinggi pada 2025 dengan total 140.324 orang selama tiga hari. Tahun ini, pemerintah daerah menargetkan angka tersebut bisa kembali terlampaui.
Asisten 2 Setda Pemprov NTB, Lalu Moh Faozal, menegaskan target yang dipasang untuk hari puncak balapan adalah 65 ribu penonton. Angka ini menjadi bagian dari total proyeksi 140 ribu penonton secara keseluruhan.
"Target kita 65 ribu pada hari puncak. Total tiga hari sekitar 140 ribu. Itu target, tapi semoga bisa lebih," ujarnya.
Aulia menambahkan, meski penyelenggara tidak memaksa pasar, strategi penjualan yang agresif tetap dijalankan. Ia menekankan bahwa pertumbuhan jumlah penonton setiap tahunnya menjadi indikator dampak ekonomi yang semakin besar bagi NTB.