BONE BOLANGO — Inspeksi mendadak yang dilakukan Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie di SMA Negeri 1 Suwawa menjadi ajang pengecekan langsung dapur hingga ompreng makanan yang diterima siswa. Idah datang tanpa pemberitahuan lebih dulu ke sekolah yang dilayani Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polres Buludawa di bawah naungan Polda Gorontalo.
Dari peninjauan itu, Idah menilai menu yang disajikan sesuai harapan. Ia menyebut porsi makanan cukup banyak dan potongan ayam berukuran besar, berdasarkan keterangan para guru yang setiap hari menerima kiriman SPPG tersebut.
Anggaran Rp10.000 per Porsi Dinilai Cukup untuk Sajian Layak
Menurut Idah, kualitas sajian di SMA Negeri 1 Suwawa membuktikan anggaran Rp10.000 per porsi bisa dimanfaatkan untuk menyediakan makanan yang layak bagi anak-anak. Syaratnya, pengelolaan di tingkat SPPG dilakukan dengan baik.
Ia menilai kualitas tersebut bisa menjadi motivasi sekaligus contoh bagi SPPG lain di Provinsi Gorontalo. Standar serupa diharapkan diikuti satuan pelayanan di kabupaten dan kota lain.
"Alhamdulillah, dari informasi guru-guru, SPPG yang setiap hari menyajikan makanan di sekolah ini menunya selalu bagus. Saya datang mendadak tanpa pemberitahuan, dan ternyata menu yang disajikan bagus, enak, porsinya banyak, dan ayamnya cukup besar. Kalau seperti ini bisa saja SPPGnya nanti dari BGN dapat bintang dan ada tambahan bonus," ujar Idah usai peninjauan.
BGN Perketat Pengawasan, SPPG Berisiko Ditutup Jika Tak Penuhi Standar
Idah menjelaskan, pengawasan pelaksanaan MBG saat ini semakin diperketat oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Setiap SPPG dituntut terus meningkatkan kualitas makanan, menjaga kebersihan, serta memastikan keamanan pangan sejak proses pengolahan hingga pendistribusian.
Konsekuensinya berlapis. SPPG yang mampu menjaga kualitas pelayanan dan berinovasi berpeluang memperoleh penilaian bintang, sedangkan penyajian yang tidak memenuhi standar dapat berujung pada penurunan penilaian hingga penutupan.
Model Prasmanan Dibuka Peluangnya Diterapkan di Gorontalo
Selain kualitas menu, Idah menyoroti inovasi pelayanan MBG melalui sistem prasmanan. Model itu memungkinkan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan dan takaran masing-masing.
Penerapannya saat ini masih terbatas di kota-kota besar dan lingkungan tertentu. Idah membuka peluang agar sistem tersebut dapat dicoba di Gorontalo dengan catatan tetap berada dalam pengawasan yang baik.
"Tidak menutup kemungkinan Gorontalo juga bisa menerapkan model MBG prasmanan. Kita perlu mencoba dan melihat bagaimana pelaksanaannya. Namun, semuanya tetap harus dalam pengawasan yang baik," jelasnya.
Guru Diminta Awasi Kebersihan Ompreng hingga Sampai ke Siswa
Idah juga meminta pihak sekolah, khususnya para guru, ikut mengawasi keamanan makanan yang diterima siswa. Penataan dan penutupan ompreng atau wadah makanan harus diperhatikan agar makanan tetap bersih dan aman selama pendistribusian.
Di SMA Negeri 1 Suwawa, total penerima manfaat MBG tercatat 618 porsi. Rinciannya, 573 siswa, 35 guru, dan 10 tenaga kependidikan.