Pencarian

Guru Besar Pertamina Soroti Distribusi Kilang ke Mesin Jadi Kendala Utama B50

Rabu, 30 September 2026 • 12:49:01 WIB
Guru Besar Pertamina Soroti Distribusi Kilang ke Mesin Jadi Kendala Utama B50
Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menilai Indonesia siap secara teknis menerapkan biodiesel B50.

GORONTALO — Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menilai Indonesia siap secara teknis menerapkan biodiesel B50, tetapi rantai distribusi dari kilang hingga ke mesin kendaraan masih jadi persoalan serius. Semakin tinggi persentase campuran sawit, menurutnya, semakin besar pula risiko penurunan kualitas bahan bakar di perjalanan. Uji teknis kendaraan sendiri sudah dilakukan Kementerian ESDM melalui Ditjen Migas dan dinyatakan tidak bermasalah.

Penilaian itu disampaikan Iman dalam forum Evolution Forum bertema "Powering Indonesia Future: Green Cars, Blue Skies" pada Rabu (30/9). Ia menegaskan pengujian mesin untuk B50 sudah tuntas di level regulator, namun persoalan sesungguhnya ada di lapangan.

"Untuk B50, untuk teknis kendaraan atau enjin sudah diuji ESDM melalui Migas, tidak masalah. Tapi masalahnya adalah lagi-lagi mulai dari kilang sampai dalam enjin, itu sampai saat ini masih belum ditangani dengan baik atau memang makin banyak persentasenya itu masalahnya makin besar," ujar Iman.

Sifat Higroskopis Biodiesel Bikin Kualitas Turun di Perjalanan

Biodiesel berbeda dari solar fosil murni karena punya sifat higroskopis, yakni mudah menyerap dan mengikat kelembapan air dari udara sekitar. Sifat itu punya dua sisi.

Bagi bahan bakar, higroskopis jadi kelemahan. Kalau penanganan selama distribusi tidak rapi, kualitas biodiesel turun sebelum sampai ke tangki konsumen. Sebaliknya, bagi lingkungan sifat ini menguntungkan karena biodiesel bersifat biodegradable.

"Jadi kalau tumpah di laut, enggak kayak (bahan bakar) fosil, merusak," kata Iman.

90 Persen Kendaraan Indonesia Dirancang untuk Bahan Bakar Fosil

Iman juga menyorot sisi kendaraannya. Sekitar 90 persen kendaraan di Indonesia dirancang di Jepang, dan mayoritas diperuntukkan bagi bahan bakar fosil, bukan campuran sawit dalam kadar tinggi.

Karena itu, kata dia, perlu kompromi antara konsumen, produsen mesin, dan produsen bahan bakar. Komisi teknis diminta menyusun standar yang bisa diterima semua pihak.

"Makanya itu tarik-tarikan, komisi teknis bikin standard, antara konsumen, pembuat enjin, pembuat bahan bakar, bagaimana komprominya. Kalau dibilang siap, sekarang jauh lebih siap karena kita sudah pengalaman," ujar Iman.

Indonesia Jadi Rujukan Pertama B50 di Dunia

Menurut Iman, belum ada negara lain yang punya acuan penerapan B50. Indonesia berada di posisi pertama, sehingga tak ada contoh yang bisa disalin.

Ia menilai Indonesia harus mampu bertahan dalam proses pengembangan ini. Pengalaman panjang dengan B30 dan B35 disebut menjadi modal penting untuk melangkah ke campuran yang lebih tinggi.

Perbaikan penanganan dari kilang sampai ke mesin disebut menjadi kunci. Jika rantai distribusi sudah beres, penerapan B50 berpeluang lebih lancar di lapangan.

Follow www.kabargorontalo.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks