GORONTALO — Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran DLHK Provinsi Gorontalo, Alim Katili, menyebut pemantauan kualitas udara menjadi indikator penting untuk melihat perubahan kondisi lingkungan, khususnya pada periode kemarau. Stasiun AQMS di kawasan Taman Kota bekerja otomatis dan berkelanjutan memantau sejumlah parameter pencemar udara ambien.
Data dari alat itu menjadi dasar mengevaluasi kondisi udara sekaligus mendukung langkah pengendalian pencemaran. Menurut DLHK, hasil pemantauan saat pengukuran belum memperlihatkan tingkat pencemaran yang kritis.
Partikulat halus PM2.5 menjadi parameter yang perlu mendapat perhatian lebih. Ukurannya sangat kecil sehingga mudah terhirup dan berasal dari berbagai sumber, mulai dari aktivitas transportasi, debu, pembakaran terbuka, hingga kebakaran vegetasi dan lahan.
Selain PM2.5, partikulat PM10 juga dipantau karena konsentrasinya berpotensi naik seiring bertambahnya debu dan aktivitas yang menghasilkan partikel di udara.
"Selain PM2.5, partikulat PM10 juga perlu dipantau karena konsentrasinya berpotensi meningkat seiring bertambahnya debu dan aktivitas yang menghasilkan partikel di udara," kata Alim Katili.
DLHK Provinsi Gorontalo mendorong peningkatan kewaspadaan terhadap sejumlah sumber pencemar. Pembakaran sampah secara terbuka, debu dari jalan dan kegiatan konstruksi, serta emisi kendaraan masuk dalam daftar yang perlu mendapat perhatian.
Masyarakat diimbau tidak membakar sampah secara terbuka dan menghindari aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara. Langkah pencegahan dinilai penting agar sumber pencemaran tidak bertambah ketika kondisi cuaca berpotensi mendukung penumpukan partikel di udara.
DLHK menyatakan akan terus mendorong pemantauan kualitas udara sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus menyediakan informasi bagi masyarakat. Konsistensi pemantauan dan keterbukaan informasi disebut menjadi faktor penting mengantisipasi penurunan kualitas udara selama musim kemarau.
"Meski kualitas udara Kota Gorontalo dilaporkan masih relatif terkendali saat pemantauan, perkembangan konsentrasi PM2.5 dan PM10 tetap perlu dicermati. Konsistensi pemantauan, keterbukaan informasi, dan pengendalian sumber pencemar menjadi faktor penting untuk mengantisipasi penurunan kualitas udara selama musim kemarau," ujar Alim.
Warga Kota Gorontalo dapat memanfaatkan data AQMS sebagai rujukan harian, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada jam-jam dengan debu jalanan meningkat.