GORONTALO — Zulkifli Tanipu, M.A., Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo, mengangkat persoalan mendasar dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia. Ia menilai setiap kali kemampuan bahasa Inggris dinilai belum memuaskan, perhatian hampir selalu tertuju pada individu pembelajar. Padahal, penjelasan soal kurang rajin membaca, kurang berlatih berbicara, atau kurang motivasi belum tentu menyentuh akar persoalan.
Menurut Zulkifli, jika kesulitan yang sama terus muncul di berbagai sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga kursus, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya pembelajarnya. Sistem pembelajaran yang membentuk pengalaman belajar mereka juga perlu ditinjau ulang.
Selama ini, pembelajaran bahasa Inggris lebih banyak diarahkan pada penguasaan materi. Pembelajar mempelajari tata bahasa, menghafal kosakata, mengerjakan latihan, lalu dinilai melalui tes yang mengukur ketepatan jawaban.
Zulkifli menegaskan semua itu penting sebagai fondasi. Namun, fondasi belum tentu menghasilkan kemampuan berkomunikasi. Inilah sebabnya banyak pembelajar mampu mengerjakan soal dengan baik, tetapi masih kesulitan menyampaikan pendapat, menulis argumen, atau berdiskusi dalam bahasa Inggris.
Persoalan tersebut tidak lahir dari satu ruang kelas saja. Kurikulum menentukan apa yang diprioritaskan untuk dipelajari. Asesmen menentukan apa yang dianggap sebagai keberhasilan. Sementara pendidik bahasa Inggris menyesuaikan strategi mengajar dengan tuntutan tersebut.
Ketiga elemen itu membentuk lingkaran yang saling mengunci. Selama prioritas kurikulum dan bentuk asesmen masih berpusat pada ketepatan jawaban, ruang bagi pembelajar untuk berlatih komunikasi nyata cenderung sempit.
Zulkifli menyoroti kecenderungan menyalahkan pembelajar ketika hasil belajar dinilai kurang memuaskan. Ia menilai evaluasi yang hanya menyasar individu tidak akan menyelesaikan persoalan selama akar masalahnya ada di sistem.
Pembelajar yang terus dinilai lewat tes ketepatan jawaban akan terbiasa mengejar nilai, bukan kemampuan berkomunikasi. Pola ini berulang dari jenjang sekolah hingga perguruan tinggi dan lembaga kursus.
Perubahan yang disarankan Zulkifli menyentuh tiga titik sekaligus: kurikulum yang memberi ruang praktik komunikasi, asesmen yang mengukur kemampuan menyampaikan gagasan, dan pendidik yang didukung untuk mengadopsi strategi mengajar yang selaras. Tanpa ketiganya bergerak bersama, kesulitan yang sama berpotensi terus berulang.