BRUSSEL — Komisi Eropa membuka peluang bagi Kanada untuk menjadi anggota asosiasi pertama Uni Eropa. Tawaran itu disampaikan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dalam pidato tahunan State of the Union 2026 di Parlemen Eropa.
Von der Leyen menyatakan Eropa harus segera merancang ulang kemitraannya. Dia mengusulkan kerja sama dengan Perdana Menteri Kanada Mark Carney untuk membawa hubungan EU-Kanada ke tingkat tertinggi yang dimungkinkan.
"Saya ingin bekerja sama dengan Anda untuk membuka peluang bagi Kanada agar menjadi anggota asosiasi pertama Uni Eropa," katanya.
Usulan tersebut menjadi bagian dari upaya lebih luas memperdalam kerja sama dengan mitra bervisi serupa di bidang strategis. Cakupannya meliputi energi, mineral kritis, baterai, kecerdasan buatan, teknologi kuantum, keamanan siber, dan keamanan ekonomi.
Status anggota asosiasi akan menciptakan bentuk hubungan baru antara EU dan negara non-EU. Meski begitu, von der Leyen tidak merinci cakupan status tersebut maupun pengaturan kelembagaan yang diperlukan.
Dia menegaskan Eropa telah memilih jalan yang lebih mandiri. Menurutnya, kini muncul Eropa yang lebih kuat dan lebih siap mempertahankan diri, mengamankan pasokan energi, serta melindungi kepentingan ekonominya.
Von der Leyen menetapkan pemulihan ekonomi Eropa sebagai prioritas utama EU. Dia menyoroti pasar tunggal yang besar, basis industri, tabungan, dan mata uang blok tersebut.
Dia mengakui masih ada fragmentasi dalam pasar modal, jaringan, dan daya beli. EU disebut telah mencapai kesepakatan politik mengenai peta jalan "satu Eropa, satu pasar", dan von der Leyen menyerukan perombakan pasar tunggal rampung pada akhir tahun depan.
Dia juga mengumumkan inisiatif konektivitas internasional baru. Jalur yang disebut Koridor Tengah (Middle Corridor) itu menghubungkan Kaukasus Selatan dan Asia Tengah dengan pasar Eropa.
Von der Leyen menyatakan Eropa tidak dapat mempertahankan posisinya sebagai kekuatan industri jika harga energi tetap tinggi secara struktural. EU disebut mengurangi ketergantungan pada gas Rusia melalui diversifikasi pasokan serta investasi di energi terbarukan dan tenaga nuklir.
Dia menyerukan peningkatan elektrifikasi dengan target melipatgandakan porsi penggunaan listrik pada 2040.
"Singkatnya, mari kita jadikan masa depan Eropa berbasis listrik. Ini adalah suatu keharusan," ujarnya.
Von der Leyen memperingatkan hubungan perdagangan Eropa dan China telah mencapai titik kritis. Dia menyebut defisit perdagangan EU dengan China mencapai sekitar 1 miliar euro (Rp20,4 triliun) per hari.
Blok tersebut sedang mengupayakan dialog dengan Beijing untuk menyeimbangkan kembali perdagangan. Von der Leyen menegaskan dialog itu harus membuahkan hasil.
Dia juga menyoroti ketergantungan Eropa terhadap China untuk bahan baku kritis. EU bergantung lebih dari 80 persen pada China untuk banyak bahan semacam itu, dan 90 persen untuk beberapa jenis logam tanah jarang.
Von der Leyen mengumumkan rencana pembentukan "Korporasi Eropa untuk Bahan Baku Kritis". Lembaga baru itu bertugas mengamankan dan menimbun pasokan untuk kendaraan listrik, cip, baterai, teknologi bersih, dan sektor pertahanan.
Von der Leyen menggambarkan kecerdasan buatan sebagai titik kritis besar kedua, sejajar dengan perubahan iklim. Dia mengemukakan kekhawatiran soal serangan siber, model yang mampu mengembangkan diri sendiri, serta sistem AI yang beroperasi di luar lingkungan yang dituju.
Dia membela Undang-Undang AI EU sebagai kerangka kerja penting untuk menetapkan langkah pelindungan. Menurutnya, Eropa perlu bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Kanada dan Inggris, dalam evaluasi model AI, verifikasi, peringatan dini, dan keamanan AI.
Pada saat yang sama, von der Leyen menegaskan Eropa membutuhkan kemampuan teknologinya sendiri, khususnya di bidang yang berkaitan dengan keamanan nasional.